Jakarta - 14 Januari 2011 pukul 11.18 siang, salah
satu post dari ratusan juta post di Facebook setiap harinya bertuliskan
"Pesan untuk Penduduk Mesir: Mari jadikan tanggal 25 Januari mendatang
sebagai Obor Perubahan di Mesir".
Pesan di atas, yang ditulis
dalam bahasa Arab, dianggap sebagai pemicu awal pergerakan sosial yang
berujung pada revolusi Mesir dan tumbangnya Presiden yang sudah berkuasa
selama 30 tahun, Husni Mubarak.
Facebook merupakan situs terpopuler kedua di Mesir dengan 5 juta
pengguna. Saat itu mayoritas penduduk, terutama kaum menengah, sudah
jengah dengan korupsi di pemerintahan, penyalahgunaan kekuasaan,
ketimpangan kesempatan ekonomi dan pemusatan ekonomi di kalangan elit.
Tagar
#Jan25, dimulai sejak 15 Januari, begitu populer dan menjadi penanda
demonstrasi berkepanjangan dan terkonsentrasi di Tahrir Square.
Revolusi
Facebook, Revolusi Twitter. Faktor sosial, ekonomi, budaya dan politik
merupakan pendorong utama revolusi ini, dimana peran jejaring sosial,
sebagai media, dengan 'viral effect' yang dimilikinya, berhasil
menumbangkan rezim Mubarak. Dunia terkejut. Revolusi berlanjut ke negara
Arab lainnya. Timur Tengah pun bergejolak.
Dua hari sesudah
pesan tersebut dikirim, pemerintah Mesir yang mengontrol ketat media
massa konvensional, mulai mengambil tindakan. Layanan internet dan
selular pun ditutup menggunakan teknologi yang dibeli dari Narus, sebuah
perusahaan asal Amerika Serikat. Rakyat mencari alternatif koneksi.
Modem dial up dan proxy server kembali marak digunakan.
Obama dan Kampanye Onlinenya
Menurut
Webster Online Dictionary, gerakan sosial merupakan salah satu jenis
aktivitas kelompok. Kelompok informal yang terdiri dari individu dan
atau organisasi dengan fokus kepada masalah sosial ataupun politik
tertentu, membuat perubahan sosial atau politik tertentu untuk
kepentingan masyarakat banyak.
Pergerakan sosial sudah dimulai
sejak ratusan tahun lampau. Bedanya adalah jika dahulu lebih banyak
menggunakan media massa, baik cetak dan elektronik seperti koran, radio
serta televisi, maupun media umum yang sederhana (pamflet, flyer) saat
ini media internet terutama jejaring sosial, menjadi platform yang
populer.
Kemampuannya menjangkau lebih banyak audiens, real
time, melintasi batas ruang dan waktu, efek domino yang dashyat serta
interaktivitasnya yang tinggi disadari berbagai kalangan.
Protes
terhadap pemilihan umum di Iran, dua tahun lalu, dikenal dengan
Pemberontakan Twitter, menunjukkan bagaimana jejaring sosial membuat
mobilisasi dan demonstrasi massa lebih mudah terjadi. Penduduk Iran
dengan lantang menyuarakan aspirasinya atas pemilihan Mahmoud
Ahmadinejad melalui Twitter dan Facebook.
Wacana peran internet
dalam mobilisasi massa mulai mengemuka sejak penggunaan media tersebut
secara intens dalam kampanye pemilihan presiden yang dilakukan oleh
Barack Obama dan timnya tiga tahun lalu.
Program kampanye
tersebut merupakan program kampanye politik pertama yang memaksimalkan
penggunaan jejaring sosial dan dipimpin oleh David Plouffe selaku
Manajer Kampanye dan Thomas Gensemer, tokoh kunci strategi Internet
Obama.
Sistemiknya pengunaan internet, pesan singkat serta media
komunikasi elektronik lainnya bertujuan untuk membuat jaringan relawan
dan koordinator di tingkat akar rumput yang penuh komitmen dan militan.
Hasilnya? 2 juta relawan dan koordinator, 200.000 acara, 35.000 grup,
400.000 blog.
Dana kampanye terkumpul sebesar 30 juta dolar dari
70.000 donatur pribadi. Peran internet sebatas media koordinasi dan
kolaborasi, dengan tetap melibatkan dan memberdayakan relawan dan
koordinator dalam acara dan program kampanye mereka.
Slacktivism
Ada
istilah ekstrim 'slacktivism', yang diperkenalkan oleh pakar jejaring
sosial ternama, Evgeny Morozov. Istilah ini memberikan gambaran bahwa
perubahan sosial atau politik bisa terjadi cukup dengan melakukan
aktivitas online saja. Sebagai contoh cukup bergabung dengan salah satu
Grup di Facebook.
Aktivisme jenis ini cocok untuk 'generasi
pemalas' yang memiliki pemikiran bahwa mobilisasi di dunia maya dapat
memberikan kontribusi yang sama besar dibandingkan dengan aktivisme
fisik, dimana mereka juga akan terhindar dari resiko terluka, meninggal,
diculik, brutalnya massa sampai ke penyiksaan yang sangat mungkin
terjadi pada aksi massa terutama untuk demonstrasi politik.
Mengambil
contoh revolusi di Mesir, para demonstran memanfaatkan album foto
maupun wall Facebook serta Twitter untuk melaporkan dan memperlihatkan
foto atas aksi yang terjadi. Rakyat yang memprotes, bentrok dengan
polisi, ketegangan yang ditimbulkan, suasana tawa dan duka. Sementara
tagar #Jan25, muncul satu hari setelah pesan di Facebook tersebut
muncul, oleh akun wanita berusia 21 tahun, @alya1989262.
Twitter
menjadi mata, telinga dan suara atas apa yang sebenarnya terjadi dan
reaksi publik terhadapnya. Para demonstran bermodalkan ponsel cerdas
seakan berlomba-lomba ingin menyampaikan kejadian yang mereka alami
tersebut ke seluruh dunia. Tujuan utamanya adalah memperoleh dukungan
dari rakyat Mesir lainnya dan dukungan diwujudkan dengan aksi serupa.
Sebelum
revolusi Mesir terjadi, awal tahun lalu, Januari silam, rezim Zine
El-Abidine Ben Ali yang telah berkuasa selama 23 tahun, juga terjungkal.
Kejatuhan kekuasaan tiran di Tunisia yang diawali dengan aksi
demonstrasi kurang lebih satu bulan lamanya, juga diawali dengan
perlawanan melalui Facebook dan Twitter.
Media massa
'mainstream', surat kabar, radio maupun televisi serta jejaring sosial
lain seperti YouTube diblokir serta aktivitas informasi di internet
diawasi dengan ketat.
Ali, nama samaran salah seorang aktivis
militan, dalam sebuah wawancara menyatakan dia menghabiskan 18 jam
waktunya setiap hari di depan komputer untuk menggunakan Facebook.
Dia
memimpin SBZ News, sebuah tim dengan 15 aktivis dunia maya, yang
mengumpulkan informasi, foto dan video dari berbagai sumber di Tunisia
dan menyebarluaskannya di Facebook dan Twitter.
Semua fitur yang
ada di kedua jejaring sosial tersebut dimanfaatkan oleh para aktivis
untuk berbagi informasi, merancang dan menyerbaluaskan agenda aksi serta
mengkoordinasikan aksi demonstrasi.
Setelah revolusi di Tunisia
menular di Mesir, pemerintah China menutup semua informasi tentang
pergolakan di Negeri Sungai Nil itu agar tidak memicu para aktivis pro
demokrasi di China melakukan yang sama.
Di dalam negeri, Gerakan
Sejuta Facebooker dalam menggalang dukungan terhadap Chandra Hamzah dan
Bibit Samad Rianto bulan Oktober dua tahun lalu yang dinonaktifkan
karena diduga menyalahgunakan wewenang cukup memberikan tekanan publik
kepada pihak berwajib dan memiliki peran penting sehingga keduanya
terbebas dari tudingan menerima suap.
Masih ada beberapa gerakan
pengguna Facebook lokal lainnya, mulai dari Gerakan 1 juta facebooker
dukung Hendri Mulyadi sebagai Pahlawan Nasional, Gerakan 1.000.000
Facebooker tolak UN sampai gerakan Gerakan Semiliar Facebooker Menolak
Pelarangan Jilbab dan Cadar.
Berani Karena Jejaring Sosial
Dari
beberapa kejadian di atas, bisa disimpulkan bahwa jejaring sosial yang
ada membuat para penggunanya menjadi 'lebih berani' dalam menyatakan
pendapat dan menyuarakan aspirasinya terutama jika hal menjadi perhatian
mereka terlepas bahwa aspirasi dan opini merupakan opini individual
maupun perilaku kolektif.
Kolaborasi antara media massa
konvensional dengan jejaring sosial, maupun jejaring sosial itu sendiri,
apabila media massa konvensional sudah kehilangan kepercayaan publik
maupun diawasi secara ketat/diblokir, sudah terbukti merupakan medium
yang ampuh untuk melakukan aktivisme digital (cyberactivism), selain
email dan situs web.
Revolusi Industri, Perancis sampai dengan
Revolusi Bolsheviks serta revolusi lainnya memang terjadi sebelum
jejaring sosial ditemukan. Teknologi semata tidak akan memicu revolusi.
Jumlah pengguna internet di dunia sudah mencapai 2,5 miliar pengguna,
dari total 6,5 miliar penduduk Bumi dimana hampir 1 miliar di antaranya
memiliki akun jejaring sosial.
Pertumbuhan pengguna internet
begitu pesat yaitu 3 digit (hampir 500 persen) dalam 10 tahun terakhir,
terutama di benua Afrika dan kawasan Timur Tengah dengan tingkat
pertumbuhan yang menakjubkan, 4 digit. Saat ini 12 persen (120 juta)
penduduk di Afrika dan 30 persen (70 juta) penduduk di Timur Tengah
sudah memiliki akses internet.
Statistik ini secara tidak
langsung meningkatkan 'posisi tawar' jejaring sosial dalam menyuarakan
opini dan aspirasi penggunanya atas perubahan sosial, pergerakan sosial
maupun menggalang 'people power'.
Ikatan sosial dan hubungan yang
kuat antara kaum yang tertindas merupakan faktor utamanya. Dan jejaring
sosial memfasilitasi ikatan sosial dan hubungan yang ada di dunia nyata
maupun dunia maya menjadi kuat atau bahkan lebih kuat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar